Depresi, Gangguan Mental yang Berisiko Ancam Jiwa

Setiap orang pasti pernah merasa sedih dan down, tetapi depresi merupakan kondisi yang lebih serius. Depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan individu merasa sedih dan kehilangan minat dalam jangka panjang. Ini juga disebut depresi mayor atau klinis yang memengaruhi perasaan, pikiran, perilaku serta memicu berbagai masalah emosional dan fisik.

Ketika seseorang mengalami depresi, ia akan sulit untuk menjalani kehidupan normal. Berbagai aktivitas sehari-hari mulai dari tidur, makan, mandi, ataupun bekerja akan terasa sukar. World Health Organization menyatakan sekitar 5% orang dewasa menderita depresi, dan wanita lebih berisiko. Tak sekadar kesedihan, depresi bahkan dapat memicu bunuh diri.

Nah, apabila Kamu sedang merasa sedih dan sulit untuk menjalani hidup, simak penjelasan mengenai depresi selengkapnya di bawah ini agar bisa teratasi sedini mungkin!

Penyebab Depresi

Depresi dapat disebabkan oleh berbagai macam kondisi. Dilansir dari Healthline dan Mayo Clinic, berikut adalah penyebab umum terjadinya depresi:

• Genetik dan Riwayat Keluarga. Faktor genetik memainkan peran penting dalam terjadinya depresi berat. Kemungkinan seseorang mengalami depresi akan meningkat tiga kali jika memiliki keluarga atau kerabat dekat yang juga menderita depresi atau gangguan mood lainnya.
• Gangguan Kimia di Otak. Neurotransmitter adalah senyawa kimia di otak yang secara alami berperan dalam depresi. Penelitian menunjukkan perubahan fungsi dan efek neurotransmitter dapat memengaruhi sirkuit saraf yang terlibat untuk mengatur suasana hati. Inilah yang menyebabkannya memegang peran penting dalam depresi dan pengobatannya.
• Hormon. Keseimbangan hormon yang berubah bisa memicu terjadinya depresi. Perubahan hormon ini dapat terjadi saat hamil, pasca melahirkan, perimenopause, menopause, atau sejumlah kondisi lainnya.
• Struktur otak. Jika lobus frontal otak kurang aktif, kemungkinan ada risiko yang lebih besar untuk mengalami depresi. Namun, sampai saat ini, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan mekanisme hubungan gangguan struktur otak dengan kejadian depresi.
• Kejadian trauma masa lalu. Trauma adalah kondisi di mana individu memberikan respons emosional terhadap kejadian buruk. Beberapa peristiwa seperti kecelakaan, bencana alam, kekerasan fisik, ataupun kekerasan seksual dapat memengaruhi cara tubuh bereaksi terhadap rasa ketakutan dan stres tersebut.
• Kondisi Medis. Berbagai masalah ataupun penyakit tertentu bisa menyebabkan terjadinya depresi, terutama penyakit-penyakit kronis yang menyebabkan gangguan kualitas hidup. Penyakit tersebut meliputi parkinson, stroke, serangan jantung, dan kanker.
• Penggunaan Zat. Penyalahgunaan zat ataupun alkohol berisiko menyebabkan terjadinya depresi pada individu.
• Nyeri. Individu yang mengalami rasa sakit atau nyeri yang kronis secara signifikan berisiko terkena depresi. Contoh, mereka yang sering mengalami sakit kepala berulang, nyeri punggung belakang, dan kondisi lain yang menimbulkan nyeri berkepanjangan.