Mental Health

“Pasti self-diagnosis karena ikutan popularitas, miris!” kalimat hal yang demikian yakni kalimat yang sering kali terucap dari beberapa orang sebagai reaksi atas maraknya berita dan konten mengenai kesehatan mental di media sosial dikala ini.

Peningkatan teknologi komputerisasi dan penyebaran berita yang cepat membuat mayoritas masyarakat penikmat media terutama Gen-Z berkembang dan mempunyai persepsi yang terwujud dari media itu sendiri.

Dengan kata lain, media memainkan perannya sebagai ‘shaper’. Proses modeling dan perbuatan imitasi dari apa yang ditampilkan dalam media komputerisasi menjadi cukup biasa dikala ini.

Namun, apakah perkembangan dan fenomena hal yang demikian membawa imbas yang bagus atau justru sebaliknya?

Stigma hingga Sensasi

Kata-kata seperti depresi, anxiety, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), bipolar, skizofernia, atau OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) pasti spaceman pragmatic sering kali terdengar baru-baru ini ini.

Kata-kata hal yang demikian yakni golongan atau nama dari gangguan kesehatan mental.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), kesehatan mental bisa didefinisikan sebagai keadaan sejahtera dimana individu menyadari kecakapannya sendiri, bisa menuntaskan tekanan hidup, bisa berprofesi secara produktif, dan cakap berkontribusi pada komunitas lain. Disisi lain, gangguan kesehatan mental diistilahkan sebagai keadaan yang memberi pengaruh psikis, pikiran, perasaan, perilaku, dan sebagainya.

Pengertian dan berita mengenai kesehatan mental nyatanya baru marak dan diketahui oleh masyarakat biasa akhir-akhir ini.

Tak jarang dari masyarakat terutama generasi milenial dan boomer menganggap bahwa kesehatan mental hanyalah bualan saja.

Mereka beranggapan bahwa gangguan kesehatan mental disebabkan oleh faktor situasional dan penderita hanya perlu memahami keadaan tanpa memerlukan perhatian khusus dan profesional untuk menuntaskan hal hal yang demikian.

Pun, beberapa masyarakat beranggapan bahwa penderita yang mengalami gejala hal yang demikian mempunyai kekurangan dalam beriman terhadap kepercayaan yang mereka anut.

Pandangan-pandangan seperti itu disebabkan oleh adanya stigma buruk mengenai kesehatan mental yang telah lama terjadi dan pada akhirnya menjadi sensasi karena maraknya berita kesehatan mental akhir-akhir ini.