Nyeri Kandung Kemih

Sindrom nyeri kandung kemih atau interstitial cystitis terjadi ketika dinding kandung kemih menjadi terlalu sensitif karena mengalami peradangan kronis. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa menimbulkan rasa nyeri hebat yang dapat mengganggu aktivitas.

Kandung kemih merupakan organ berongga yang berfungsi untuk menyimpan urine. Organ ini terdiri dari sel epitel khusus yang memungkinkannya untuk meregang dan menyesuaikan dengan volume urine.

Saat terisi penuh dengan urine, kandung kemih akan mengirimkan sinyal ke otak dan memberi tahu otot-otot di dalam kandung kemih untuk berkontraksi. Inilah yang kemudian menimbulkan rasa ingin buang air kecil.

Dalam kondisi normal, sinyal tersebut tidak menyebabkan nyeri. Namun, pada sindrom nyeri kandung kemih, sinyal yang sampai ke otak bisa menjadi kacau, sehingga menyebabkan penderitanya merasa nyeri dan ingin buang air kecil padahal kandung kemih belum terisi penuh.

Gejala Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Gejala serta tingkat keparahan sindrom nyeri kandung kemih bisa parlay bervariasi pada setiap orang. Namun, kondisi ini biasanya dimulai dengan nyeri mendadak di area panggul atau alat kelamin yang hebat dan bertahan lama.

Rasa nyeri biasanya akan makin memburuk saat penderita sedang mentruasi, melakukan aktivitas seksual, dan buang air kecil. Selain nyeri, sindrom nyeri kandung kemih juga ditandai oleh beberapa gejala lain, seperti:

  • Frekuensi buang air kecil meningkat, tetapi volume urine yang keluar hanya sedikit
  • Tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecil
  • Buang air kecil terasa tidak tuntas (anyang-anyangan)

Penyebab Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Penyebab sindrom nyeri kandung kemih masih belum diketahui secara pasti, tetapi kondisi ini terjadi akibat kombinasi dari beberapa faktor. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam terjadinya sindrom nyeri kandung kemih adalah rusaknya lapisan pelindung (sel epitel) kandung kemih, sehingga menyebabkan zat-zat beracun dalam urine masuk dan mengiritasi dinding kandung kemih.

Kondisi ini biasanya akan menyerang wanita yang berusia lebih dari 30 tahun. Selain itu, beberapa kondisi dan penyakit tertentu juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom nyeri kandung kemih.

Berikut ini adalah beberapa kondisi dan penyakit yang bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom nyeri kandung kemih:

  • Riwayat operasi pada kandung kemih
  • Kerusakan saraf
  • Melemahnya otot-otot dasar panggul
  • Gangguan autoimun
  • Kelainan sel darah putih

Penanganan Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Jika tidak ditangani, rasa nyeri yang hebat akibat sindrom nyeri kandung kemih dapat membuat penderitanya sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang berkelanjutan untuk mengurangi atau mengatasi nyeri maupun gejala sindrom nyeri kandung kemih yang lain.

Sebelum memberikan penanganan, dokter akan memastikan sindrom nyeri kandung kemih melalui pemeriksaan fisik dan tanya jawab terhadap pasien. Dokter kemudian akan menyarankan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti tes urine, sistoskopi, dan biopsi, untuk membantu memastikan penyebab keluhan yang dialami.

Baca Juga : 

Hal-Hal yang Harus Dihindari saat Mengidap Pulpitis

Ini Rekomendasi dan Jenis Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh

Setelah dipastikan menderita sindrom nyeri kandung kemih, pasien akan ditangani untuk meringankan gejala yang timbul. Berikut ini adalah penanganan sindrom nyeri kandung kemih:

1. Perubahan gaya hidup

Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat bisa menjadi salah satu cara untuk meringankan gejala sindrom nyeri kandung kemih. Dokter biasanya akan menyarankan perubahan gaya hidup yang dibarengi dengan pengobatan lainnya. Dengan begitu, sindrom nyeri kandung kemih dapat teratasi dengan lebih cepat.

Berikut ini adalah beberapa perubahan gaya hidup yang akan disarankan oleh dokter:

  • Menghindari atau mengurangi konsumsi makanan yang dapat mengiritasi kandung kemih, misalnya makanan pedas dan makanan yang mengandung vitamin C tinggi
  • Memperbanyak aktivitas fisik dan rutin berolahraga
  • Menghentikan kebiasaan merokok
  • Menghindari atau mengurangi konsumsi minuman beralkohol
  • Mengurangi konsumsi makanan atau minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau coklat
  • Mengurangi konsumsi minuman berkarbonasi, seperti soda dan sparkling water

2. Obat-obatan

Obat-obatan diberikan untuk meredakan gejala dan mengatasi kondisi yang menyebabkan sindrom nyeri kandung kemih. Jenis obat yang mungkin akan diresepkan oleh dokter adalah:

  • Obat antinyeri, untuk meredakan nyeri yang dirasakan sebagai salah satu gejala sindrom nyeri kandung kemih. Contoh obat yang bisa diresepkan adalah ibuprofen dan naproxen.
  • Obat antidepresan trisiklik, untuk melemaskan kandung kemih dan antinyeri, serta mengurangi urgensi dan frekuensi buang air kecil. Dokter dapat meresepkan amitriptyline maupun imipramine sebagai contoh obat dari golongan ini.
  • Obat antihistamin, untuk mengatasi kelainan pada sel darah putih, serta mengurangi urgensi dan frekuensi buang air kecil. Contoh obat antihistamin yang dapat diresepkan adalah loratadine dan hydroxyzine.
  • Obat imunosupresan, untuk mengatasi gangguan autoimun yang menyebabkan sindrom nyeri kandung kemih. Contoh obatnya adalah cyclosporine.
  • Obat antagonis reseptor leukotriene, seperti montelukast, juga dapat diresepkan dokter untuk mengatasi kelainan pada sel darah putih.

Selain obat oral di atas, dokter juga mungkin akan memberikan larutan yang mengandung obat-obatan khusus, seperti lidocaine, natrium bikarbonat, heparin, hyaluronic acid, dan chondroitin, ke dalam kandung kemih. Larutan tersebut dimasukkan melalui uretra dengan menggunakan selang tipis dan fleksibel (kateter).

3. Terapi listrik

Selain menyarankan perubahan gaya hidup dan meresepkan obat-obatan, dokter juga akan merekomendasikan terapi listrik untuk mengatasi gejala sindrom nyeri kandung kemih.

Jenis terapi listrik yang dilakukan oleh dokter untuk mengatasi sindrom nyeri terdari dari dua metode, yaitu transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) atau sacral nerve stimulation.

Kedua jenis terapi listrik ini memiliki cara kerja yang kurang lebih sama. Pada kedua prosedur ini, dokter akan memasangkan kabel yang memancarkan aliran listrik bertegangan rendah ke tubuh.

Pada TENS, kabel biasanya akan ditempelkan di punggung bawah atau area kemaluan. Sementara pada sacral nerve stimulation, kabel ditempelkan di dekat saraf sakral, yaitu penghubung antara saraf sumsum tulang belakang dan kandung kemih.

4. Operasi

Apabila gejala yang dialami pasien sudah cukup parah dan berbagai perawatan sebelumnya tidak dapat mengatasi sindrom nyeri kandung kemih, dokter akan menyarankan operasi.

Melalui operasi, dokter akan mengambil jaringan lain di dalam tubuh untuk kemudian ditambalkan ke kandung kemih. Prosedur ini bertujuan untuk menambah volume kandung kemih, sehingga dapat menampung lebih banyak urine.

Jika Anda mengalami beberapa keluhan yang menyerupai gejala sindrom nyeri kandung kemih, terlebih bila gejala mulai mengganggu aktivitas Anda, periksakanlah ke dokter. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan penanganan yang sesuai dan kondisi sindrom nyeri kandung kemih pun dapat cepat teratasi.